Halo sahabat selamat datang di website seputarhukum.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Oknum Kepala Panti Asuhan di Medan Cabuli Anak Asuh Selama 7 Tahun oleh - seputarhukum.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Kitakini.news â€" Bukannya mengayomi, Ebit Natal Nael Simbolon, Kepala Panti Asuhan Simpang Tiga, Jalan Buku, Medan Petisah, tega cabuli anak asuhnya, perempuan 14 tahun. Perbuatan cabul ini sudah berlangsung selama tujuh tahun, atau sejak korban berinisial WL berusia 7 tahun.

Pendamping korban, Riri Novita Sari dari Satuan Bhakti Pekerja Sosial Kemensos RI, berharap agar pelaku dihukum seberat-beratnya.

“Kami mengecam keras pelaku, karena selama ini kita bermitra dalam kegiatan perlindungan anak. Korban yang harusnya diayomi, dilindungi dari perbuatan yang mengancam keamanannya, justru mendapat perlakuan yang keji,” ucapnya usai sidang perdana di Pengadilan Negeri Medan, Rabu (15/7/2020).

Dia juga berharap, sebagai kepala panti, Ebit Natal Nael Simbolon mendapatkan hukuman sepertiga lebih besar dari tuntutan. Karena sudah ada Undang-undangnya. Pekerja kemanusiaan, satgas, pimpinan panti melakukan kejahatan, harus ditambah hukumannya sepertiga dari tuntutan,” jelas dia.

Dijelaskannya, kasus pencabulan atau rudapaksa ini terbongkar ketika korban melarikan diri dari Panti Simpang Tiga. Setelah itu korban datang ke kantor Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Medan. Dia datang  bersama Kepala Lingkungan (Kepling) setempat pada tanggal 9 Desember 2019.

Sementara, Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Komalasari Sari mengatakan, perbuatan Ebit Natal Nael Simbolon mengakibatkan korban mengalami trauma yang sangat mendalam.

panti asuhan

“Traumanya itu sangat luar biasa, soalnya dari umur 7 tahun sampai umur 14 tahun,” ucapnya.

Atas perbuatan pelaku, Komalasari juga berharap agar Ebit Natal Nael Simbolon dihukum dengan seberat-beratnya. “Kalau bisa dihukum kebiri, karena ini perbuatan yang sangat keji,” ujarnya berharap.

Di lain sisi, LBH Apik, Cut Betty juga bersependapat dengan LPAI. Katanya, perbuatan pelaku sangat tidak manusiawi karena korban telah pengalaminya usia 7 tahun.

“Perkosaan itu dilakukan hampir setiap harinya yang membuat korban mengalami trauma berat,” ucapnya.

Kasus Pencabulan Oknum Kepala Panti Asuhan Ditangani LSM di Medan

Kata dia, awalnya kasus ini ditangani LSM yang berada di Kota Medan dan merujuk ke Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak.

Agar kasus pemerkosaan ini dapat ditindak tegas, maka tim dari SOS Children Village Medan, ikut serta dalam perkara ini. Kasus teresebut juga ditangani Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, DP3APM Kota Medan, Sakti Peksos Kemensos, PESADA dan LBH APIK.

Untuk diketahui, kasus dugaan pemerkosaan dan pencabulan yang dilakukan oknum Kepala Panti Asuhan Simpang Tiga. Kasus kembali disidangkan di ruang Cakra V Pengadilan Negeri Medan, Selasa (14/7/2020).
Sidang beragendakan mendengarkan keterangan saksi yang digelar tertutup dipimpin oleh ketua majelis hakim Ahmad Sumardi. Dua dari lima saksi dihadirkan dalam proses persidangan kali ini. Salah seorang di antaranya adalah korban WL sendiri yang merupakan anak penghuni panti asuhan tersebut.
Selain majelis hakim dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) serta pengacara terdakwa, persidangan virtual yang berlangsung kurang lebih 1 jam itu juga dihadiri berbagai pihak. Pemerhati perkara hadir pada kegiatan tersebut. Dia menjalani sidang melalui telekonferensi dari tahanan Polda Sumut.
Usai persidangan, JPU Robert Silalahi saat dikonfirmasi wartawan mengatakan terdakwa merupakan Kepala Panti Asuhan Simpang Tiga. Panti asuhan tersebut menaungi 25 orang anak asuh yang berasal dari keluarga miskin yang selama ini dibiayai sekolahnya oleh terdakwa.
“Terdakwa yang merupakan Kepala Panti Asuhan ini memegang, memasukan jarinya ke alat vital korban, yang dilakukan selama tujuh tahun,” kata JPU Robert Silalahi.
Selain itu dikatakan Robert Silalahi, terdakwa juga merupakan seorang guru di salah satu sekolah di Kota Medan.
“Pada bulan Desember 2019, korban mengadukan kejadian yang dialaminya kepada teman sekolahnya. Selanjutnya teman korban melaporkan hal ini ke Kepala Lingkungan (Kepling). Dan dilanjutkan ke Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak,” ujar Jaksa.
Dikatakan JPU, tadi kita menghadirkan saksi diantaranya korban WL. Dari 5 saksi yang ada baru 3 saksi yang sudah dimintai keterangannya berkaitan kasus dugaan pencabulan tersebut.
“Kedua saksi lainnya, kita minta keterangannya pada sidang berikutnya, salah satu saksi yakni istri terdakwa,” ujar JPU Robert Silalahi.

Kontributor : Amelia Murni/Abimanyu

Itulah tadi informasi dari daftar poker online mengenai Oknum Kepala Panti Asuhan di Medan Cabuli Anak Asuh Selama 7 Tahun oleh - seputarhukum.xyz dan sekianlah artikel dari kami seputarhukum.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Posting Komentar

 
Top